Sabtu, 20 Agustus 2016

Training Untuk Karnaval

Ternyata training panjang stelan kaos kuning ini tak kunjung ditemukan. Ada banyak training di lemari milik suaminya yang guru olahraga. Tak kehilangan akal, Maharani meminjam salah satu training milik suaminya.
Sampai di sekolah, Maharani ditegur pimpinannya. Dia menjawab apa adanya, tapi tak digubris. “Training saya ketinggalan di rumah Ibu waktu saya mudik.” Pimpinannya tidak mau tahu itu.
Bulan Agustus ini banyak kegiatan yang mengharuskan dia memakai kostum olahraga. Seperti hari ini, karnaval. Maharani ditegur pimpinannya karena memakai celana hitam. Maharani diam.
Tiba-tiba datang kurir titipan barang. Maharani terharu, saudaranya telah mengirimkan training miliknya pada saat yang tepat.


Kamis, 11 Agustus 2016

Waktu Tepat Untuk Menulis

dok.pri

Waktu Tepat Untuk Menulis

Kapan waktu yang tepat untuk menulis? Jawabannya adalah segera menulis. Bisa pagi setelah bangun tidur, setelah shalat Shubuh, siang, sore, atau malam hari. Tapi harus segera, bukan nanti dan tidak menunda-nunda.

Karanganyar, 11 Agustus 2016

Kamis, 14 Juli 2016

Dua Yang Tak Akur

Dua Faiq-Faiz
dok.Faiqah Nur Fajri
Dua yang tak akur ini memiliki selisih usia 10 tahun. Dhenok tak mau mengalah dan Thole maunya menang sendiri. Saya tak bisa menengahi mereka. Kalau saya menengahi, si Dhenok bilang,”Faiz yang dibela padahal salah.”
Namanya juga anaknya semua, saya tahu banyak hal tentang mereka hingga yang remeh sekalipun. Ketika Dhenok  masih kecil, kehidupan kami masih kurang dan prihatin. Pernah suatu hari, tak ada uang untuk membeli susu (beras tinggal mengambil hasil panenan, makan dengan lauk seadanya, memasak sayur tinggal memetik di sawah), Dhenok merengek minta minum susu. Saya menenangkan Dhenok dan memberinya teh hangat sambil memberi pengertian. Dan saya berjanji esok harinya pulang sekolah membawa susu. Dan saya membawa susu bendera 1 kg, hutang koperasi (potong gaji bulan berikutnya). Saya ingin membahagiakan putri saya yang ketika itu masih berusia 3-4 tahun.  Akan tetapi saya pantang mengeluh pada mertua (kalau saya mau, pasti juga diberi).
Lain halnya dengan Thole, kehidupan kami Alhamdulillah lebih mapan. Masalah rezeki, pokoknya ada saja sumbernya. Akan tetapi Thole memiliki kisah yang sedikit mengharu biru. Sejak kecil, belum ada 1 tahun usianya, Thole masuk rumah sakit karena kejang. Sebenarnya kejang yang dialami Thole termasuk ringan, penyebabnya adalah demam biasa. Demam yang menyertai batuk pilek. Thole dirawat di rumah sakit selama seminggu. Baru seminggu keluar dari rumah sakit, Thole mengalami kejang lagi (masuk rumah sakit lagi).
Sampai umur 3,5 tahun, Thole sudah 4 kali masuk rumah sakit. Tiga kali karena kejang dan satu kali karena muntaber. Dengan demikian, saya tak tega kalau pas tidak akur Thole dimarahi Dhenok. Satu lagi, bulan Nopember 2015, Thole menjalani operasi pemasangan pen karena lengan kirinya patah. Menurut saya sebagai ibunya, lengkap sudah kesusahan Thole. Kalau Dhenok sering marah-marah pada Thole, saya selalu menengahi. Memang Thole itu juga sering usil, memancing kakaknya biar marah.
Dua yang tak akur, kata teman saya, perlu ada yang ketiga. Saya hanya tersenyum. Sepulang dari Tawangmangu kemarin, sore harinya badan saya terasa lungkrah. Buntil tahu dan molen pisang yang saya makan akhirnya keluar pada malam hari. Perasaan saya, kok sama seperti ketika Thole tiduran di dalam perut saya ya. Malam hari, kondisi saya juga tak semakin baik. Tapi tidak muntah, hanya mual saja.
Pagi harinya, perasaan saya kok jadi tidak enak. Di sekolah suasananya jadi terbawa ngantuk pol. Lah, ini kan sama dengan kondisinya ketika Thole diam-diam tidur di dalam perut. Semangat, dua yang tak akur akan ditengahi satu anak yang adil.
Saya bilang pada suami,”Sudah siapkah Ayah dengan satu lagi?”
“Insya Allah, siap.”
“Kalau begitu, atur jadwal, kurangi badminton dan tenis!”
“Wah, itu tidak bisa.”
Nah, betul kan. Dulu ketika Thole lahir, dia bilang siap momong. Tapi sekarang,mau  tenis dan badminton sering main petak umpet dulu. Lalu meninggalkan tangis Thole yang kejer-kejer.  
“Sebelum pergi, beli onemed dulu. Kalau positif, ya mulai besok kurangi acara pergi-pergi.”
Ketika saya melahirkan Thole, usia saya 39 tahun. Kini Thole berusia 6 tahun. Semangat! Mata saya berbinar ketika saya lihat ada satu garis merah. Alhamdulillah, ternyata hanya kurang tidur saja dan kondisi badan tidak seimbang.
Dua yang tak akur, akan Mami jaga dengan sepenuh hati karena kalian memang punya cerita sendiri dengan latar belakang yang tak sama.

Karanganyar, 25 Mei 2016

Setelah Ramadan Sudahkah Kita Menjadi Lebih Baik? #14


Setelah Ramadan Sudahkah Kita Menjadi Lebih Baik? #14
Selama Ramadan, kita berusaha menjaga puasa kita, shalat kita, sedekah kita, baca quran kita dan ibadah lainnya. Setelah Ramadan berlalu, sehari kemudian dengan penuh suka cita kita sambut hari kemenangan. (Kemenangan dilihat dari sudut manakah?)
Kita berusaha untuk menemui orang tua, saudara, kerabat, handai taulan dan tetanggga. Baik tetangga dekat maupun yang jauh. Bahkan kita rela menemui orang yang baru kita kenal. Sungguh sangat terpuji tindakan kita. Sebenarnya semua itu tidak terlalu muluk-muluk dan berlebihan.
Pada orang yang kita temui, lantas kita bermaaf-maafan. Mengucapkan permintaan maaf yang panjang lebar, sungkem dan biar kelihatan khusyuk diiringi tangisan dan derai air mata haru. Satu sama lain akan melakukan hal yang sama. Bagus, itu bagus, tidak ada jeleknya.
Suasana haru berubah menjadi ceria. Canda dan tawa menyertai obrolan, sehingga semuanya berjalan baik dan suasana jadi hidup. Makan besar tersedia, camilan dari yang biasa hingga yang luar biasa dihidangkan dan angpao siap dibagikan. Angpao tidak sebatas buat anak-anak, melainkan orang tua juga mendapatkan dari saudaranya yang lebih mampu. (saya termasuk orang tua yang dapat angpao dari kakak, karena memang perlu angpao dilihat dari tingkat perekonomian. Haiyahh, ini modus banget!)
Kalau di instansi, suasana halal bi halal sedikit agak resmi. Acaranya juga disusun dengan rapi. Tidak semua orang boleh bicara. Yang boleh bicara hanya pembawa acara, pemberi sambutan dan pengikrar saja. Yang lain diam, duduk manis, mendengarkan sambil menikmati kudapan. Dengan teman kiri kanan boleh bicara tetapi pakai bahasa isyarat atau bisik-bisik saja.
Setelah acara selesai, dilanjutkan bersalam-salaman. Ekspresi teman-teman memang macam-macam. Tapi intinya suka cita setelah bermaaf-maafan. Harapannya mulai hari itu, meminimalkan berbuat salah pada kawan-kawan baik disengaja maupun tak disengaja. Amin, semoga bisa menjauhkan diri dari khilaf dan dosa.
Lalu, apa jadinya bila di hari pertama ngantor sudah ada teguran keras, sudah mulai ada yang main ngancam, sudah mulai perang? Lantas, Ramadan kemarin rapornya bagaimana? Apakah Ramadan berlalu, kesalahan bisa diawali? Manakah kata-kata mohon maaf lahir dan batin?
Memang mengucapkan mohon maaf lahir dan batin itu gampang. Apalagi kalau Cuma menuliskannya di FB, twitter, group WA, seolah sudah cukup. Ternyata praktek dari mohon maaf lahir dan batin dan tak mengulangi kesalahan lagi itu tidak segampang copy paste.
Sebagai manusia, kita bisa memulai dari hal-hal yang sederhana, dari hal kecil, memaafkan dan minta maaf. Menghilangkan dendam kesumat dan menjauhkan diri menonjolkan keakuan dan keangkuhan.
Manusia tempat salah dan khilaf. Bila kita berhadapan dengan anak kecil maka katakanlah anak ini kesalahannya lebih sedikit dari saya. Kalau melihat orang yang lebih tua, katakanlah orang tersebut lebih dahulu bertaubat dan lebih lama melakukan amal baik.
Ramadan adalah sarana memperbaiki diri. Maka setelah Ramadan tentu kita menjadi lebih baik.  
Karanganyar, 14 Juli 2016

http://kahfinoer.blogspot.co.id/2016/07/setelah-ramadan-sudahkah-kita-menjadi.html

Selasa, 28 Juni 2016

Kejutan Menjelang Ulangan Umum

Suasana KBM di SMP
dok.pri

Kejutan Menjelang Ulangan Umum
Menjelang ulangan umum kenaikan kelas, semua guru diberi tugas untuk visit ke rumah siswa-siswa yang sudah beberapa hari tidak masuk sekolah. Biasanya Bu Fatimah diberi tugas bersama Bu Larmi untuk mengunjungi tempat tujuan yang sama. Mereka berdua memang pasangan serasi. 
Kali ini Bu Fatimah dan Bu Larmi bertugas mengunjungi rumah 3 siswa. Yang pertama mereka datangi adalah rumah Rizki. Beberapa hari Rizki tidak masuk sekolah. Ternyata Rizki membantu orang tuanya membakar batu bata. Kata orang tua Rizki mumpung sudah ada pembeli yang memesan dan batu bata segera diambil bila sudah matang. Membakar batu bata memerlukan tenaga yang ekstra.
Selama pembakaran berlangsung, kayu bakar tidak boleh kehabisan atau terlambat menambah kayu bakar. Tugas Rizku adalah menjaga agar bara api tidak padam dengan cara menambahkan kayu bakar. Hasil penjualan batu bata digunakan untuk melunasi administrasi yang belum rampung.
Setelah merampungkan pekerjaannya, Bapak Rizki akan ke sekolah guna menyelesaikan administrasi dan mengambil nomor peserta tes Ulangan Umum Kenaikan Kelas. Berarti masalah Rizki sudah selesai.
Bu Fatimah dan Bu Larmi berpindah tempat mendatangi rumah Alim. Sebenarnya Alim termasuk anak pendiam. Kedua orang tua Alim merantau. Alim ikut nenek dan kakeknya. Belakangan ini Alim memiliki masalah. Dia ingin seperti teman-temannya, bisa berkumpul dan bercanda. Akan tetapi Alim memiliki kekurangan dalam hal berkomunikasi. Alim sedikit gagap.
Untuk membujuk Alim tetap bersekolah, ini adalah tugas Bu Fatimah. Bu Fatimah memang dekat dengan anak-anak. Baik secara fisik maupun emosional, Bu Fatimah mampu memberikan kekuatan. Bagi Alim, Bu Fatimah bagaikan Ibu yang selalu memberikan kesejukan kala dia berada di ruang kelas.
Seperti biasa, Bu Fatimah memberikan motivasi pada Alim. Terus belajar sedikit demi sedikit. belajar tak perlu ngoyo, yang penting setiap hari konsisten membaca buku. Bu Fatimah tahu kekurangan Alim, beliau selalu mengatakan siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Ketika mengajar, Bu Fatimah tidak memperlakukan semua siswanya sama. Kalau ada yang memerlukan perlakuan khusus, beliau mau mendekati siswa tersebut. Harapannya ada kemajuan berarti bagi siswa yang awalnya patah semangat.
Bu Fatimah menyadari betul bahwa mengajar di sekolah swasta di mana potensi akademik siswanya di bawah rata-rata. Kalau inputnya kecil, maka perlu penanganan yang besar untuk mendapatkan output yang besar. Sebuah tantangan besar dan berat. Mengajar siswa dengan kemampuan akademik di bawah rata-rata tidaklah mudah. Apalagi siswa-siswanya memiliki problem yang beraneka macam.
Bukan hanya Bu Fatimah, bahkan semua guru yang mengajar di sekolahnya memiliki kesabaran yang luar biasa. Baik ketika mengajar maupun di luar jam mengajar, setiap guru memiliki tanggung jawab untuk menjadikan anak berhasil.
 Kini Alim tak minder lagi, benar kata Bu Fatimah seandainya dia putus sekolah kelas 8 SMP lalu apa yang bisa dia lakukan. Seandainya bekerja, pekerjaan apakah yang bisa dilakukan sekarang? Bu Fatimah memotivasi agar Alim bisa sekolah, minimal hingga menempuh jenjang SLTA.
Alim tersenyum, nenek juga tersenyum. Entah, apa yang dipikirkan nenek? Tahunya, Alim harus sekolah. Secara ekonomi, Alim termasuk dari keluarga mampu.
00000
Tempat yang terakhir dituju Bu Fatimah dan Bu Larmi adalah rumah Intan. Intan sakit diare. Beberapa waktu sebelumnya, Intan makan makanan pedas-pedas. Padahal Intan sudah punya kekurangan pada pencernaannya. Meskipun tidak sampai dehidrasi, gadis itu kelihatan lemas dan pucat.
Intan termasuk siswi yang pandai di sekolahnya. Sehari-hari, Intan membantu ibunya berjualan di rumah sendiri. Bukan warung makan yang besar. Ibu Intan membuka warung hiks/angkringan di rumahnya. Dari berjualan inilah, keluarga Intan mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Beberapa hari Intan tidak masuk sekolah karena sakit. Intan juga tidak bisa membantu Ibunya. Bu Fatimah dan Bu Larmi berpesan agar Intan tidak sembarangan mengkonsumsi makanan.
Kedatangan Bu Fatimah dan Bu Larmi adalah kejutan menjelang Ulangan Umum Kenaikan Kelas. Intan tak menyangka ada perhatian dari pihak sekolah. Dan ternyata kedatangan kedua gurunya sangat berarti baginya.
Bu Fatimah dan Bu Larmi memang guru yang sangat perhatian pada siswa-siswanya. Baik untuk kepentingan pelajaran maupun di luar masalah pelajaran. Dua guru ini sangat disukai siswa-siswanya, sebab keduanya sabar dalam mengajar.
Meskipun sabar, Bu Fatimah tetap membuat aturan khusus yang diterapkan untuk siswa-siswanya. Misalnya, siswa yang terlambat, tidak memakai atribut, rambutnya gondrong atau disemir (bagi laki-laki) dikenai sanksi. Aturan tersebut membuat anak menjadi lebih menjaga disiplin. Untuk melanggar aturan, siswa-siswa menjadi sungkan.
00000
Hari ini adalah hari pertama Ulangan Umum Kenaikan Kelas. Semua siswa sudah siap bertempu dengan kemampuannya masing-masing. Kalau beberapa hari yang lalu ada siswa yang tidak masuk karena ada sedikit masalah, sekarang semua beres. Rizki, Alim dan Intan menyebutkan kalau kedatangan Bu Fatimah dan Bu Larmi merupakan kejutan menjelang ulangan umum. Kejutan yang membahagiakan. Terima kasih Bu Guru.

(Selesai)


Tulisan ini diikutsertakan dalam #Giveaway21TahunPenuhCinta 

Minggu, 05 Juni 2016

Candi Ceto Tempat Tertinggi Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah

Candi Ceto, Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah
dok.pri
Perjalanan saya kali ini sungguh tak pernah saya sangka sebelumnya. Suami saya orangnya memang suka memberi kejutan. Memang kali ini adalah kali kedua saya diajak ke Jenawi. Dulu tiga tahun yang lalu, tahun 2013 saya diajak menikmati udara di perkebunan teh. Waktu itu ramai sekali karena akan ada peringatan Hari Besar Agama Hindu. Waktu itu suami menunjuk Candi Ceto. Tapi kami hanya lewat begitu saja.
Gapura Dukuh Ceto Desa Gumeng
dok.pri
Kali ini suami saya benar-benar mengajak saya melihat dari dekat. Hanya, suami ternyata tidak mau naik, saya diminta jalan sendiri. Jalan sendiri kalau dengan Thole itu alamat lelah banget. Maka saya tidak perlu masuk ke obyek wisata. Saya hanya melihat dari dekat saja, bagian depan, tidak masuk sampai dalam. Saya hanya membutuhkan info, dan saya mendapatkan informasi umum yang penting sebagai berikut:
1.      Tiket masuk untuk wisatawan domestic Rp. 7.000,00; untuk wisatawan asing manca Negara Rp. 25.000,00.
2.      Setiap pengunjung harus memakai kain kampuh. Kain kampuh bermotif kotak-kotak hitam putih.
Saya jadi ingat ketika ke Candi Sukuh beberapa waktu yang lalu. Pengunjung wajib memakai kain kampuh dengan tujuan untuk membedakan wisatawan yang legal dan illegal. Hehe, kalau yang illegal alias tidak membayar tiket, tidak lewat pintu masuk. Entah lewat pintu mana.
Harga Tiket
dok.pri
Candi Ceto merupakan candi bercorak agama Hindu yang diduga kuat dibangun pada masa-masa akhi era Majapahit (abad kelima belas Masehi). Lokasi candi berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1496 m di atas permukaan laut dan secara administrative berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Pengunjung Berkain Kampuh, Terima kasih Mas
dok.pri
Kompleks candi digunakan oleh penduduk setempat dan peziarah yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan. Candi ini merupakan tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan asli Jawa/Kejawen.
00000
Sebenarnya perjalanan saya ke Candi Ceto adalah menghindari keramaian di lokasi wisata yang ada kaitannya dengan air. Kebetulan hari ini hari terakhir pada Bulan Ruwah. Menjelang Ramadhan banyak orang yang melakukan ritual padusan. Tapi ternyata jalan menuju Candi Ceto ramai sekali meskipun tidak sampai macet. Pengunjungnya berjubel.
Oleh-oleh khas, Teh asli
dok.pri
Ada yang istimewa saat ini, yaitu selain Candi Ceto, para wisatawan juga menikmati udara segar di kebun teh di Jenawi. Saya turut bangga, ternyata Karanganyar memiliki tempat wisata yang bisa dibilang favorit.
Candi Ceto letaknya di Kecamatan Jenawi, salah satu kecamatan yang terletak di daerah tertinggi di Karanganyar. Candi Ceto berada di lereng Gunung Lawu. Walaupun tidak berada di puncak, namun dilihat dari kegiatan masyarakat secara umum, Candi Ceto tetap letaknya tertinggi dibandingkan Kecamatan lain di Karanganyar. Jalannya menanjak tajam (kemiringannya lebih dari 45 derajat, busur mana busur), tikungannya juga banyak yang tajam. Harus berhati-hati bila mengendarai kendaraan menuju Jenawi utamanya Candi Ceto. Kalau mau ke lokasi Candi Ceto kendaraan harus dalam keadaan siap dan fit tidak boleh ada kekurangan. Sangat berbahaya kalau ada kerusakan. Dan yang penting buat kendaraan roda dua yaitu siap-siap bensin dipenuhi.
Rompi dan tas, tak terpisahkan
dok.pri
Dari Candi Ceto, kami pulang melewati Kecamatan Jenawi, Kecamatan Kerjo, Kecamatan Mojogedang, Kecamatan Karanganyar. (Waktu berangkat lewat Ngargoyoso).
Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa menikmati perjalanan ini dengan penuh pengiritan. Pokoknya, saya ngirit sekali kalau berkeliling tempat wisata Karanganyar. Semoga bermanfaat.
Rekomendasi tempat wisata Kabupaten Karanganyar yang bisa dikunjungi:
Candi Sukuh (Ngargoyoso), Grojogan Sewu (Tawangmangu), Sondokoro (Tasikmadu), Makam Bapak Suharto/Ibu Tien Suharto (Matesih), Candi Ceto (Jenawi), Kebun Teh (Jenawi dan Ngargoyoso)

Sumber bacaan : Wikipedia, Alam Kabupaten Karanganyar.

Kamis, 02 Juni 2016

Penulis Rajin Mengikuti Lomba

Jadilah Buku
dok.pri
Kalau sudah berkomitmen untuk menjadi penulis maka jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah segera menulis. Menulis tidak memerlukan teori yang membuat kepala berdenyut-denyut lalu menjadi alasan malas untuk segera menulis. Lihat saja dan rasakan sendiri, orang yang menulis buku harian! Mereka tak akan berpikir untuk menulis buku harian sesuai EBI (Ejaan Bahasa Indonesia). 

Mereka akan menulis begitu saja tanpa dipusingkan aturan-aturan yang berlaku.
Kalaupun akhirnya kita harus mempelajari masalah EBI, itu bisa dilakukan sambil menulis. Praktek menulis sekaligus belajar EBI, gampang bukan. Percayalah, orang akan berusaha menjadi lebih baik kalau sudah memiliki banyak pengalaman. Ada cara untuk mengasah kemampuan dan memperbaiki kualitas menulis, yaitu dengan cara mengikuti lomba menulis.

Sekarang, banyak sekali lomba-lomba menulis dengan berbagai macam tema. Kita tinggal memilih, mau mengikuti lomba menulis dengan tema yang mana. Dengan tema tertentu ini, maka kita akan membutuhkan referensi. Dengan demikian kita akan membuka referensi dan akan mempelajari isi tulisan tersebut. Lalu kita akan berusaha untuk meningkatkan kualitas tulisan kita. Bisa saja kita akan meniru gaya tulisan dari buku yang sedang kita pelajari.

Kita akan lebih percaya diri kalau mengirimkan tulisan kita atau ikut serta dalam lomba menulis bila tulisan kita sudah sedemikian memikat (menurut penilaian kita).  Dengan mengikuti lomba, terutama ngeblog, kita bisa mempelajari tulisan para peserta lomba. Dengan membaca-baca blog teman-teman, tentu saja akan memotivasi kita.

Kita boleh percaya diri dengan gaya tulisan kita, tetapi kalau ternyata gaya bahasa/tulisan kita tidak sesuai dengan kriteria, tentu saja kita akan tersingkir. Yang perlu kita lakukan adalah terbuka. Bisa jadi tulisan orang lain menginspirasi. Mengikuti lomba bukan soal menang atau kalah. Justeru di sinilah kita harus mau (terpaksa mau) mengakui keunggulan tulisan orang lain.

Jangan pernah menyerah untuk memperbaiki diri. Segera belajar dan ikutilah prosesnya. Jangan pernah melihat kesuksesan orang lain pada saat ini, tapi lihatlah bagaimana mereka merintis sejak awal.  
Karanganyar, 2 Juni 2016